Ini bukan tentang saya, melainkan tentang belajar mencintai sesuatu yang bukan milik sendiri. Karena disanalah makna sebuah proses dalam kesunyian. Mencintai tanpa harap untuk memiliki dan menjaga tanpa menuntut ..
Pada Hari Amal Bakti Kementerian Agama Republik Indonesia, Sabtu (3/01), saya menerima sebuah penghargaan sebagai inisiator renovasi Kantor KUA Berastagi. Penghargaan itu hadir sebagai penanda kecil dari sebuah niat yang sederhana: merawat apa yang dipercayakan, meski bukan milik pribadi.
KUA adalah ruang negara yang paling dekat dengan kehidupan warganya. Di sanalah janji diikrarkan, doa dipanjatkan, dan harapan keluarga dimulai. Ketika bangunannya mulai lapuk, saya merasa terpanggil—bukan karena memiliki, melainkan karena dipercayai. Renovasi ini bukan proyek, melainkan amanah. Sebuah upaya sederhana untuk merawat ruang yang setiap hari menjadi saksi niat baik banyak orang.
Mencintai milik orang berarti menahan diri dari rasa ingin memiliki. Ia menuntut keikhlasan: bekerja tanpa harus disebut, memperbaiki tanpa menuntut pujian. Batu-batu disusun, dinding diperbarui, fasilitas diperbaiki—semuanya dilakukan dengan keyakinan bahwa pelayanan publik yang layak adalah bentuk penghormatan kepada manusia.
Penghargaan yang saya terima hari ini hanyalah penanda kecil dari kerja bersama. Ada pegawai KUA yang setia, masyarakat yang mendukung, dan banyak tangan yang bekerja tanpa suara. Mereka semua adalah bagian dari pengabdian yang sering luput dari sorotan, namun nyata manfaatnya.
Hari Amal Bakti mengajarkan bahwa pengabdian sejati tidak selalu lantang. Ia tumbuh dari kesediaan untuk hadir, merawat, dan menjaga—meski yang dijaga bukan milik kita. Semoga KUA Berastagi yang kini lebih layak dapat menjadi rumah pelayanan yang menenangkan. Dan semoga kita semua terus belajar: bahwa dalam mencintai milik orang, kita justru menemukan makna terdalam dari pengabdian.
Oleh :
Ikhwan Syahlani, SHI
Penyuluh Agama Islam, Kantor Urusan Agama Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo, Sumatera Utara