22, Januari 2026 13:47 WIB

Membaca Goseh Melalui Catatan Gus Dur


Dalam tulisannya di Majalah Tempo 1983, Orang Karo dan Kebanggaannya, Abdurrahman Wahid bercerita sederhana: tentang seorang sopir taksi, tentang kaset lagu Karo yang berputar pelan, tentang mesin tua yang dirawat dengan sabar. Tidak ada teori besar. Yang ada hanya potret hidup orang kecil yang bekerja keras, tetapi tetap merasa hidupnya berjalan di tempat.

Gus Dur melihat satu hal penting: orang Karo punya kebanggaan pada kerja. Mereka senang bergerak, senang mengurus mesin, tak betah diam. Mobil, truk, dan sepeda motor bukan sekadar alat cari makan, tapi bagian dari keseharian. Namun kebanggaan itu sering berhenti di situ. Ia tak sempat naik kelas. Tak pernah benar-benar diberi jalan.

Cerita itu terasa akrab di Tanah Karo hari ini. Banyak orang pandai bekerja, tahu jalan, tahu mesin, tahu cara melayani. Tapi penghasilan tetap tak menentu. Kerja keras sering tak sebanding dengan hasil. Bukan karena malas, tapi karena tak ada sistem yang memihak.

Di titik inilah Aplikasi Goseh muncul. Bukan sebagai penemuan baru, melainkan sebagai upaya merapikan yang sudah ada. Orang Karo tidak diajari bekerja—mereka sudah lama bekerja. Goseh hanya mencoba menyambungkan mereka dengan pesanan, dengan waktu, dengan kepastian.

Kalau dulu sopir dalam tulisan Gus Dur menunggu penumpang di Blok M, hari ini banyak orang menunggu notifikasi di layar ponsel. Bedanya tipis, tapi maknanya besar. Yang satu menunggu nasib, yang lain setidaknya diberi jalur.

Namun teknologi tetap harus dicurigai. Gus Dur mengingatkan, modernisasi sering datang tanpa keadilan. Mesin boleh baru, tapi kalau relasinya lama “yang kuat di atas, yang kecil di bawah” hasilnya tak jauh berbeda.

Pertanyaannya sederhana: apakah Goseh hanya memindahkan ketidakadilan ke layar digital, atau sungguh membuka ruang yang lebih adil bagi kerja orang Karo?

Bila aplikasi ini setia pada Tanah Karo ‘pada orang-orang yang bekerja dengan tangan dan kaki, bukan dengan jargon’ maka ia bisa menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar layanan. Ia menjadi alat untuk menjaga harga diri kerja. Agar orang tak lagi merasa rendah hanya karena pekerjaannya tak punya seragam atau kantor.

Gus Dur menulis dengan empati, dari jarak yang dekat. Goseh, jika ingin bertahan, harus bekerja dengan empati yang sama. Bukan mengejar ramai, tapi cukup. Bukan memburu besar, tapi adil.

Di Tanah Karo, orang sering bilang: kerja harus kelihatan, hasil harus terasa. Mungkin itu juga ukuran paling jujur untuk sebuah aplikasi.

Bukan seberapa canggih ia dibuat, tapi seberapa jauh ia membantu orang pulang ke rumah dengan kepala tegak.

Artikel Terkait

Share Artikel