Rabu. 11 Maret 2026 – Peringatan Nuzulul Qur’an Kementerian Agama Kabupaten Lamongan
Di antara ayat-ayat yang sangat kuat maknanya dalam Surah Al-Isrā’ terdapat dua ayat yang sering dijadikan dasar refleksi oleh para ulama: ayat tentang datangnya kebenaran dan lenyapnya kebatilan, serta ayat tentang Al-Qur’an sebagai penyembuh dan rahmat. Kedua ayat ini bukan hanya menjelaskan fungsi wahyu, tetapi juga menggambarkan bagaimana kebenaran bekerja dalam sejarah dan bagaimana Al-Qur’an berperan dalam memperbaiki kehidupan manusia.
Allah berfirman:
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
“Katakanlah: telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.”
Dalam penjelasan para ulama tafsir, kata الحق (al-ḥaqq) di sini dipahami sebagai kebenaran yang dibawa oleh wahyu, yaitu Islam itu sendiri. Kebenaran bukan hanya sekadar ide atau konsep, tetapi merupakan realitas yang datang membawa petunjuk hidup yang lurus. Ketika wahyu turun dan ajaran Islam ditegakkan, maka kebenaran itu memasuki kehidupan manusia secara nyata.
Sebaliknya, الباطل (al-bāṭil) mencakup segala bentuk kesesatan: penyembahan berhala, keyakinan yang salah, tipu daya setan, serta sistem hidup yang menyimpang dari petunjuk Allah. Menariknya, Al-Qur’an menggunakan kata زَهَقَ (zahqa) untuk menggambarkan lenyapnya kebatilan. Kata ini dalam bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang hilang dengan cepat dan tidak memiliki daya tahan.
Para mufassir menjelaskan bahwa kebatilan pada hakikatnya tidak memiliki fondasi yang kuat. Ia mungkin tampak besar dan berkuasa dalam suatu masa, tetapi keberadaannya bersifat rapuh. Begitu kebenaran muncul dengan jelas, kebatilan akan runtuh dengan sendirinya. Karena itu ayat ini diakhiri dengan penegasan: إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا — sesungguhnya kebatilan memang diciptakan untuk lenyap.
Ayat ini juga memiliki makna sejarah. Ketika Nabi Muhammad ﷺ memasuki kota Makkah pada peristiwa Fathu Makkah, beliau menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka‘bah sambil membaca ayat ini. Peristiwa tersebut menjadi simbol bahwa ketika cahaya tauhid datang, segala bentuk kesyirikan dan kebatilan tidak lagi memiliki tempat.
Namun kemenangan kebenaran tidak hanya terjadi dalam sejarah besar umat manusia. Ayat ini juga berlaku dalam kehidupan batin setiap manusia. Ketika cahaya iman masuk ke dalam hati, maka berbagai bentuk kebatilan dalam diri—seperti kesombongan, hawa nafsu, dan keraguan—akan perlahan memudar.
Setelah menjelaskan kemenangan kebenaran, Al-Qur’an melanjutkan dengan ayat berikut:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang beriman, dan Al-Qur’an itu tidak menambah bagi orang-orang zalim selain kerugian.”
Ayat ini menjelaskan fungsi Al-Qur’an sebagai syifā’ (penyembuh). Dalam penafsiran ulama, penyembuhan ini mencakup dua dimensi: penyembuhan hati dan penyembuhan kehidupan. Hati manusia sering dipenuhi oleh berbagai penyakit batin seperti keraguan, kecemasan, kesombongan, iri hati, dan kegelisahan. Al-Qur’an datang membawa petunjuk yang membersihkan hati dari penyakit-penyakit tersebut. Melalui ayat-ayatnya, manusia diajak mengenal Allah, memahami tujuan hidup, dan menemukan ketenangan dalam ibadah.
Selain sebagai penyembuh, Al-Qur’an juga disebut sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Rahmat di sini berarti bahwa Al-Qur’an menjadi sumber kebaikan yang luas bagi kehidupan manusia. Ia memberikan pedoman moral, aturan sosial, serta panduan spiritual yang mengantarkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan mengikuti petunjuk Al-Qur’an, manusia tidak hanya memperoleh ketenangan batin, tetapi juga membangun masyarakat yang adil dan berakhlak.
Namun ayat ini juga mengandung peringatan yang mendalam: wahyu yang sama tidak selalu membawa manfaat bagi semua orang. Bagi orang yang zalim—yaitu mereka yang menolak kebenaran dengan kesombongan—Al-Qur’an justru menambah kerugian mereka. Hal ini terjadi karena ketika seseorang menutup hatinya terhadap kebenaran, setiap ayat yang ia dengar justru memperkuat penolakannya. Bukan karena wahyu itu sendiri buruk, tetapi karena hati yang keras tidak mampu menerima cahaya petunjuk.
Dengan demikian, dua ayat ini menggambarkan sebuah prinsip besar dalam kehidupan spiritual. Kebenaran memiliki kekuatan untuk mengalahkan kebatilan, tetapi kemenangan itu hanya dapat dirasakan oleh hati yang terbuka. Al-Qur’an adalah cahaya dan penyembuh, namun manfaatnya hanya akan dirasakan oleh mereka yang datang kepadanya dengan iman dan kerendahan hati.
Melalui dua ayat ini kita belajar bahwa perubahan besar dalam kehidupan manusia dimulai dari dua hal: hadirnya kebenaran dan kesiapan hati untuk menerimanya. Ketika wahyu dipahami dan dihayati, ia tidak hanya mengubah keyakinan seseorang, tetapi juga membersihkan jiwanya dan menuntunnya menuju kehidupan yang lebih bermakna.


